Jogja Bukan Sekedar Melihat

Selasa, 28 Februari 2012

PADA SEBUAH SENJA

Foto: Ahmad Syafiq
















Bila senja bertambah senja
Dan matahari merah di angkasa
Aku mencium kematianku
Tercium pula kelahiranku
Pada lautan kesunyian
Yang membuatku menyatu
Dengan apa dan siapa pun

Senin, 27 Februari 2012

PUISI YANG KUCINTA

Puisi yang kucinta telah pergi.
Aku hidup tanpa puisi yang kucinta.
Tidak miskin, tidak sedih,
tapi hidup tanpanya
adalah kutukan:
lambang-lambang memancarkan
makna yang sama, setiap jiwa
menghuni jasadnya masing-masing,
tak ada yang salah tempat.
Dunia terasa dingin dan tawar
dalam detik hari-hariku.

Almaut Sang Penyamar

Maut adalah orang buta
yang melihat dengan ujung jari
menudingmu

Awalnya, cerita seputar Almaut beredar di sebuah kafe di Kairo yang terletak di lorong panjang yang mengalir di antara rumah-rumah lapuk dari tanah liat. Seorang jurnalis Inggris turut hadir di kafe itu untuk mendengar riwayat Almaut dari seorang juru cerita buta yang matanya selalu menerawang kosong. Juru cerita itu seorang lelaki tua yang khas: berjenggot panjang, beralis tebal, memakai gamis gelap, dan selalu membawa pipa hashis di tangannya. Setiap malam, lelaki tua itu berkunjumg ke kafe al-Mustathraf untuk minum kopi. Jika seorang pemain rebana dan penyair jalanan menyusulnya ke kafe, maka orang-orang segera berduyun-duyun untuk mendengar hikayat-hikayat, dongeng-dongeng, serta kisah-kisah misterius, yang meluncur dari mulut lelaki tua itu yang penuh bualan.

Soliloqui Orang-orang Cacat

Si Bisu:

      Sepuluh jemari tangan kujadikan lidah
      untuk meluncurkan kata-kata pada dunia
      kerdipan mata kujadikan bahasa
      agar kau yang menatapku memahami hidupku.
      Jika jemari tanganku patah
      jemari kakiku akan mengganti perannya:
      tanpa masalah kutaruh kata-kata di kakiku
      ia sudah biasa bercakap-cakap dengan mataku
      setiap kali mencari jalan yang mungkin dilalui.

      Jika rasa lapar mengembara,
      karena mulutku bisu,
      perutku bergemuruh memanggil makanan:
      datanglah nasi diantar tanganku
      menyertainya lauk dan sayuran,
      sendok mengangkat mereka ke mulut
      sedang perutku menyediakan kantongnya
      lengkap dengan usus dan empedu
      gejolak paru-paru dan lambung berdenyut.

      Semua berjalan dengan baik dan lancar:
      aku tak perlu menuntut lebih pada mulutku
      mulutku tak perlu meminta maaf pada kebisuanku.

SEPERTI TUHAN






















malam ini namamu
kutanggung sebagai doa
yang gagal kupanjatkan
dengan mataku yang padam
dan lidahku yang patah

aku kehilangan peta
menuju tuhan
sudah lama aku tak bicara
dengan langit dan planet-planet
sudah lama aku tak bicara
dengan diriku

PENEMUAN DUNIA

darah dari garis ras
yang dikuduskan
melampaui segalanya
mengangkat impian terkubur
untuk berlayar ke benua jauh
demi mencari surga
yang dijanjikan
kitab-kitab junjungan

kapal berlabuh
pantai membuka daratan
namun tak ada telaga susu
dan malaikat bersayap putih
hanya orang-orang kuning
dengan rambut lurus
tinggal di pulau ini

SEPERTI MATAHARI

Foto: Ahmad Syafiq















Seperti matahari, cinta ini
Tak seorang pun menciptanya,
Bahkan kau dan aku, bahkan mawar
Yang berguru pada musim
Serta para rahib
Yang tekun menyimak wahyu.

Mereka tidak mampu 
Mencipta cinta.


Teologi Aktor Universalis

Pada suatu malam yang hening di Abad Pertengahan, seorang aktor yang telah tua merenungi masa lalunya yang dihabiskan dari panggung ke panggung. Kadang muncul rasa bangga manakala terbayang seorang penonton rupawan terisak-isak menyaksikan adegan tragis yang ia perankan. Namun tak jarang ia bersedih manakala lakon yang ia perankan tersingkap kedok imajinernya di hadapan kenyataan yang sering berkebalikan dengan imajinasinya.

Memaknai Silaturahmi: Komunitas Sastra dan Masyarakat yang Berubah

Tulisan ini adalah pengantar untuk antologi puisi Beternak Penyair (2012) oleh komunitas Hysteria, dalam rangka pertemuan komunitas-komunitas sastra di Semarang, Desember 2011


Terutama pada dua dasawarsa mutakhir, gejala sosial yang muncul dalam sastra Indonesia adalah menjamurnya komunitas-komunitas sastra di berbagai daerah. Komunitas-komunitas tersebut menyenggarakan berbagai kegiatan sastra mulai membaca, menulis dan menyosialisasikan karya sastra baik melalui tulisan maupun pertunjukan. Dalam komunitas-komunitas sastra itu pula terjadi diskusi, baik formal maupun informal, tentang berbagai gagasan yang berkaitan dengan sastra, baik tema maupun estetikanya. Sebuah gejala yang menyenangkan jika melihat semangat serta semakin banyaknya individu-individu yang terlibat dalam komunitas-komunitas sastra tersebut.

Kecenderungan berkomunitas di kalangan para sastrawan tersebut lahir, menyebut sejumlah faktor penyebabnya, adalah sebagai dampak dari perubahan sosial, politik dan ekonomi. Pada wilayah sosial, sedang terjadi proses reograninasi masyarakat, dimana ikatan-ikatan tradisional berdasarkan agama, etnisitas dan klan mulai diimbagi oleh ikatan profesi yang lebih menyatukan individu-individu berdasarkan minat dan pekerjaan yang sama. Ketika para sastrawan berkomunitas, mereka tengah melakukan tindakan politis dalam wujud memperkuat status “profesional” mereka sebagai sastrawan sehingga posisi sosial mereka lebih diperhitungkan di tengah masyarakat—atau lebih tepatnya di hadapan kelompok-kelompok profesi yang lain. Dan pada akhirnya, kecenderungan berkomunitas itu juga merupakan konsekuwensi dari perubahan ekonomi yang semakin mengelompokkan masyarakat ke dalam jenis pekerjaan yang semakin terspesialisasi.

Penyair dan Keruntuhan Sejarah

Sejauh mana sosok manusia bernama penyair mampu mengada dalam sejarah? Filsuf metafisika Martin Heidegger (1971) menyebut puisi sebagai media terbaik bagi manusia untuk mengada (becoming), karena puisi memiliki karakteristik yang mampu memberi kepenuhan makna dalam kesadaran manusia.

Pendapat filsuf metafisika tersebut mesti didukung oleh penjelasan sosio-antropologis untuk mengetahui posisi dan peran penyair secara lebih konkret. Terdapat suatu masa dimana keberadaan masyarakat bergantung pada posisi dan peran para penyair, sehingga puisi menjadi teks yang memberi status ontologis bagi masyarakat tersebut. Namun juga terdapat fase dimana masyarakat menggantungkan status ontologisnya pada selain yang bukan puisi, dan sosok penyair pun menjadi figur pinggiran yang meski pun dipuja namun belum cukup didengar oleh publik.

Politik Multikulturalisme: Basquiat, Warhol dan Kapitalisme

Warhol & Basquiat
KITA buka perbincangan multikulturalisme dengan menyebut nama yang tak asing lagi: Jean Michel Basquiat. Mungkin tak ada yang menyangka dia akan menjadi legenda seni rupa. Basquiat lahir dari keluarga kulit hitam Amerika yang berantakan dan tumbuh di lingkungan yang sama. Kasarnya, ia tak memenuhi syarat sukses menurut ukuran borjuis kulit putih: lahir dari keturunan baik-baik, menempuh pendidikan dengan nilai bagus, dan lulus dari universitas yang diperhitungkan.

Akan tetapi, Basquiat lahir ketika perbudakan dan rasisme diolok-olok, nilai konservatif kelas menengah mulai ditinggal perubahan sosial yang gegap, dan sikap akademisme kaku jadi bulan-bulanan kompleksitas perubahan sosial.Di tengah semua itu, seorang perupa genius kulit hitam ternyata tak mungkin dikeluarkan dari sejarah—alih-alih sebagai representasi antiperbudakan dan manifestasi zaman yang semakin terbuka.

Misteri Syahrazad dan Matinya Para Pendongeng

PADA malam kelabu di masa kanak-kanak, ketika hantu-hantu dalam khayalan kita bermain layaknya badut-badut yang menyeramkan, kita sering meminta bantuan ibu kita untuk mengusir hantu-hantu itu. Ibu kita tak akan mengmbil tindakan gila dengan memberi anaknya sebuah kapak, tetapi memberi kata-kata yang disusun dalam dongeng yang penuh jebakan. Hantu-hantu itu pun lari terbirit-birit, takut pada kata-kata ibu kita; kata-kata murni yang menyimpan tenaga luar biasa, nyaris sama dahsyatnya dengan bom atom bikinan ilmuwan eksentrik yang beruntung.

Kata-kata dalam dongeng, itulah rahasia di balik kecerdikan Aladdin menyelamatkan diri dari muslihat penyihir jahat, senjata rahasia Syahrazad selamat dari ancaman Syahjehan, dan mantra misterius yang membuat unta milik Ali Bhaba bisa bersikap sama bijaknya dengan seorang filsuf yang menyamar menjadi seekor binatang. Dalam kantuk yang berat kita terus memikirkan kata-kata hebat dari Kisah 1001 Malam itu. Begitu dongeng berhenti ibu kita segera melepas bermacam fantasi dari alam pikirannya, keluar dari alam dongeng yang baru dikisahkannya, sambil mengusap wajah kita dengan khidmatnya.

Terjebak antara Pengarang dan Penulis

APA perbedaan pengarang (author) dan penulis (writer)? Pertanyaan sederhana yang tidak mudah dijawab, apalagi bila disusul beberapa pertanyaan berikut: bagaimana membedakannya? Apa ukuran yang kita gunakan? Kenapa dibedakan?
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita perlu mengetahui persamaan pengarang dan penulis. Kerja keduanya sama-sama berhubungan dengan bahasa. Bahasa dalam pengertian paling luas dan mendasar: formula yang membentuk kesadaran (bahkan ketidaksadaran, menurut psikoanalisis) dan pandangan hidup manusia. Seandainya terdapat seorang pengarang atau penulis mengaku mampu bekerja tanpa bahasa, orang tersebut bisa dibilang sedang berdusta.